Lembaga Pendidikan Al-Quran (LPQ) NUN LEARNING CENTER yang didirikan oleh Yayasan Nun Bina Muda Indonesia, telah hadir di kalangan masyarakat Baleendah, Kabupaten Bandung, sejak tahun 2008. Lembaga ini menyelenggarakan pendidikan membaca Al-Quran dengan cepat dan benar serta berorientasi Tartil. Pembelajaran ini dengan menggunakan Metode Qiraati.
Saat ini, Nun Learning Center (NLC) ini mendidik sekitar 100 siswa/santri. Mereka mendapatkan pendidikan membaca Al-Quran dengan Metode Qiraati. Selain cepat, bacaan anak-anak santri terstandar dengan makhraj dan tajwid yang benar. Selain belajar membaca Al-Quran, pengajaran dengan Metode Qiraati ini dilengkapi pula dengan menghafal surah-surah pendek, belajar shalat dan wudhu dengan benar, dan doa-doa yang penting dalam kehidupan ini.
Para santri tersebut, selain dari LPQ NLC juga berasal dari para siswa Sekolah Alam Gaharu yang berjumlah sekitar 240 siswa. Di NLC terdapat 40 guru yang telah terstandar sebagai guru dengan Metode Qiraati yang dinamakan Syahadah. Selain telah mendapatkan Syahadah, para ustad/ustadzah diwajibkan tetap menjaga bacaan dengan rutin dalam kegiatan MMQ (Majlis Mualimin Al-Quran). Sehingga, para santri terjamin bacaannya tetap baik dan para guru juga secara psikologis terjaga akhlaq mereka, karena rutin membaca Al-Quran.

Pada umumnya para santri dapat menyelesaikan pembelajaran Al-Quran tersebut selama 3-4 tahun. Berikutnya, mereka harus mengikuti Evaluasi Akhir yang disebut EBTAQ (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Al-Quran). Bila seorang santri dinyatakan lulus, sang santri harus mempertanggungjawabkan hasil bacaannya pada Acara Khatmul Qur’an. Dalam acara tersebut, sang santri harus bisa menyampaikan hasil bacaan dan evaluasi pengetahuannya tentang membaca Al-Qur’an di depan publik. Bila berhasil dalam ujian tersebut, sang santri dinyatakan lulus dan mendapatkan Syahadah. Saat ini, kian banyak para santri yang masih berusia muda, yaitu para murid kelas 1atau 2 SD, telah lulus dalam mengikuti Evaluasi akhir dan Khatmul Qur’an.
Di sisi lain, Biaya Pendidikan yang harus mereka bayar sangat ringan. Setiap bulan mereka hanya dikenakan SPP sebesar Rp.160.000,-.
Selain bagi para santri yang masih muda usia, LPQ NLC juga menyelenggarakan pembelajaran membaca Al-Quran bagi ibu-ibu dan membuka beberapa kelas untuk privat. Saat ini, lebih dari 45 orang dewasa yang belajar membaca Al-Quran di LPQ NLC. Biaya pembelajaran ini juga sangat murah, sekitar Rp. 2.000,- segtiap kali datang. Ini karena untuk membangun masyarakat agar bisa mengaji Al-Quran masih dibutuhkan pengorbanan. Alhamdulillah masih ada para dermawan yang bersedia membantu perjuangan ini.
Metode Qiraati disusun K.H. Dachlan Salim Zarkasyi dari Semarang. Metode ini merupakan metode belajar Al-Quran dengan mudah, cepat, dan benar yang digemari anak-anak. Lembaga-lembaga yang menggunakan metode ini tumbuh pesat, hingga cabang-cabangnya berdiri di berbagai penjuru Nusantara. Bahkan, sampai negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Kambodya.
Selain belajar membaca Al-Quran dengan benar, pengajaran Al-Quran dengan Metode Qiraati ini dilengkapi pula dengan menghafal surah-surah pendek, belajar shalat dan wudhu dengan benar, dan doa-doa yang penting dalam kehidupan ini. Oleh karena LPQ NLC sangat menjujung tinggi kualitas bacaan, maka yang terpenting bagi lembaga ini adalah kualitas bacaan guru atau ustadz/ustdzahnya.
Ternyata, tidak mudah mendapatkan satu demi satu guru yang bersedia mengajar dengan standar yang tinggi tersebut. Ini karena untuk menjadi seorang ustadz/ustadzah diperlukan perjuangan untuk mencapai standard yang telah ditentukan sebagai ustadz-ustadzah Metode Qiraati. Namun, kegigihan LPQ NLC dalam mencari dan mentrainingkan para calon guru hingga lulus bersyahadah membuahkan hasil. Akhirnya, Allah “mendatangkan” para calon ustadz/ustadzah yang mengajar di LPQ NLC dengan rasio guru : murid rata-rata 1:10, bahkan lebih kecil, agar guru bisa fokus mengajar dengan benar.

Di samping itu, semua ustadz/ustadzah yang telah bersyahadah tetap diharuskan menjaga kualitas bacaan mereka. Ini, dengan mengikuti “Simâ’an”, yang dilakukan seminggu dua kali, pada hari Senin dan Jumat, selepas mereka mengajar. Sedangkan di antara lembaga-lembaga diadakan Majlis Muallimil Qur’an (MMQ), yang diadakan sebulan sekali dengan tempat bergantian.
Kegiatan MMQ ini, di samping berfungsi sebagai ajang silaturahmi, juga untuk mengdakan acara tadarus bersama secara bergantian, dengan membaca seluruh Al-Quran di mana bacaan setiap ustadz/ustadzah disimak bersama. Selain oitu, [ada acara MMQ ini juga diberikan materi lain, sebagai bahan untuk memperkuat hasil bacaan para ustadz/ustadzah maupun keikhlasan mereka dalam menjalani fungsi mereka sebagai guru Metode Qiraati.
Memang, di satu sisi tampak seakan tugas para ustadz/uztadzah demikian berat: bertanggung jawab atas amanah yang diberikan orang tua yang menitipkan putra-putrinya untuk belajar Al-Quran dengan standard bacaan yang tinggi. Namun, di sisi lain, pihak LPQ NLC sangat menghargai jerih payah mereka, dengan senantiasa memikirkan kesejahteraan mereka. Hingga, insya Allah, mereka dapat mengajar dengan tenang, ikhlas, dan senantiasa bersemangat. Salah satu wujud penghormatan kepada mereka, alhamdulillah pihak LPQ NLC diberi kesempatan Allah Swt. dapat memberangkatkan seorang ustadz/ ustadzah untuk melaksanakan umrah ke Tanah Suci.
Di sisi lain, tentu kita tahu bahwa seorang anak usia empat hingga sepuluh tahun adalah anak yang masih bersih hatinya dan bening otaknya. Secara teori, usia sekian itu merupakan masa emas pertumbuhan, baik hati maupun otaknya. Baik perilaku maupun akhlaknya. Baik kecerdasan otak ataupun emosi anak.
Juga, pada masa-masa inilah kehidupan sosial dimulai, sementara emosi dan khazanah spiritual seseorang berkembang, Dan, di saat ini pula pengetahuan, bahkan ilmu atau pelajaran yang dipilihkan, dapat kita terapkan dengan sempurna, termasuk belajar membaca Al-Quran, sebelum anak mendapat informasi lain dalam kehidupannya. Apabila orang tua salah langkah dalam menghadapi fase ini, informasi yang masuk ke dalam hati atau otak seorang anak bisa jadi kelak akan menyesatkan hidupnya atau paling tidak meninaboboKkan jalan pikirannya. Akibatnya, kelak di kemudian hari, di masa usia berikutnya, karakter tersebutlah yang akan muncul dan menguat pada dirinya hingga akhir hayatnya. Oleh karena itu, alangkah sayangnya bila masa emas tersebut kita abaikan atau kita salah dalam “mengisinya” kepada putra-putri kita. Al-Quran adalah panduan hidup seseorang, sejak ia mengenal Allah hingga akhir hayatnya, untuk mencapai kehidupan mulia di dunia dan akhirat kelak. Karena itu pula, seyogyanya seorang anak mendapatkan “pengisian” Al-Quran ini dari orang tuanya dalam hidupnya yang sebaiknya dilakukan sedini mungkin dalam usianya. Insya Allah dengan belajar membaca Al-Quran sejak usia dini, hasil bacaannya akan melekat terus serta tidak pernah dilupakan hingga akhir hayatnya.
– dr. Ummie Wasitoh


